Theology,Technology, and Philosophy, ENJOY!!

Friday, January 18, 2013

GAMBARAN KERAJAAN ALLAH PADA ZAMAN YESUS


Source: curezone.com

KOMPETENSI DASAR

Para siswa mengenal Yesus yang datang untuk mewartakan dan memperjuangkan Kerajaan Allah. Maka, para siswa diharapkan merasa terpanggil untuk berjuang bersama Yesus.

TUJUAN PEMBELAJARAN

Pada akhir pelajaran, siswa dapat:
1.   menganalisis situasi sosial pada zaman Yesus;
2.   menjelaskan paham-paham tentang Kerajaan Allah pada zaman Yesus;
3.   menjelaskan paham Yesus tentang Kerajaan Allah.

PENDAHULUAN

Enam abad sebelum kedatangan Yesus, bangsa Israel selalu dijajah oleh bangsa lain, yaitu bangsa Persia, bangsa Yunani, dan terakhir bangsa Romawi. Selain ditindas oleh para penjajah tersebut, bangsa Israel juga ditindas oleh pemimpin-pemimpin sendiri, yaitu raja-raja boneka yang diangkat oleh para penjajah. Dalam situasi tertindas seperti itu, kerinduan akan datangnya Mesias dan Kerajaan Allah senantiasa muncul dengan kuat.
Paham tentang Kerajaan Allah bukan baru muncul pada zaman Yesus, tetapi sudah lama diimpikan oleh bangsa Israel, terlebih pada saat-saat mereka sangat ditindas. Dalam situasi tertindas itu, muncullah bermacam-macam paham tentang Kerajaan Allah.

1. Paham Kerajaan Allah yang Berciri Nasionalistis
       Paham ini dihayati sungguh oleh kaum Zelot. Kegiatan mereka bertujuan membebaskan Israel dari kuasa politik kaum kafir. Kaum Zelot sungguh berjihad untuk mengusir kaum kafir. Mereka berharap dengan kebangkitan nasionalisme, kemenangan bangsa Israel dapat tercapai, dan Kerajaan Allah terbangun.

2. Kerajaan Allah Menurut Pandangan para Apokaliptik
       Apokaliptik adalah aliran yang percaya akan datangnya penghakiman Allah, karena dunia ini sudah jahat dan akan digantikan oleh dunia baru. Dalam dunia baru itu yang baik akan dianugerahi kebakaan, sedangkan yang jahat akan dihukum.
     Menurut pandangan para Apokaliptik, Kerajaan Allah adalah sebuah kenyataan terakhir yang akan terjadi pada akhir zaman. Setelah zaman ini hilang lenyap dibinasakan Allah, “Kerajaan Allah” akan menjadi kenyataan di bumi baru dan langit baru yang dijadikan Allah.

3. Kerajaan Allah Menurut Pandangan para Rabi
       Menurut pandangan para rabi, Allah sekarang sudah meraja secara hukum, sedangkan di akhir zaman Allah akan secara nyata menyatakan kekuasaan-Nya sebagai Raja semesta alam dengan menghakimi dan menyatakannya kepada sekalian bangsa. Kenyataan bahwa bangsa Israel kini dikuasai oleh orang-orang kafir (sebab pada masa Yesus bangsa Yahudi dijajah oleh bangsa Romawi yang dianggap sebagai bangsa kafir) merupakan akibat dari dosa-dosanya. Namun, jika Israel melakukan hukum Taurat, maka penjajah akan dipatahkan. Karena itu, mereka yang sekarang taat pada hukum Taurat sudah menjadi warga Kerajaan Allah. Tetapi jika Israel tidak melakukan hukum Taurat, maka Israel akan terus dijajah dan diperintah oleh kaum kafir.
          Paham Yesus tentang Kerajaan Allah lebih mirip dengan paham para rabi. Kerajaan Allah mulai merekah, terutama dalam diri Yesus, dan akan mencapai kepenuhannya pada akhir zaman. Untuk menyambut Kerajaan Allah orang harus bertobat dan percaya pada Injil (lih. Mrk 1: 14-15).




PENDALAMAN MATERI
          Selama enam abad sebelum kedatangan Yesus, bangsa Israel selalu dijajah oleh bangsa lain, yaitu bangsa Persia, bangsa Yunani, dan terakhir bangsa Romawi. Selain ditindas oleh para penjajah itu, bangsa Israel juga ditindas oleh pemimpin-pemimpin bangsanya sendiri, yaitu raja-raja boneka yang diangkat oleh para penjajah.
           Dalam situasi tertindas seperti itu, bangsa Israel selalu memimpikan kedatangan Mesias dan Kerajaan Allah. Untuk mengerti dengan baik impian bangsa Israel tentang Kerajaan Allah dan pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah, maka secara berturut-turut kita membahas tentang situasi sosial masyarakat Yahudi pada waktu itu, paham-pahamnya tentang Kerajaan Allah, dan pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah.

A.  SITUASI SOSIAL BANGSA ISRAEL

1. Situasi Sosial – Politik
    Setelah masa pembuangan bangsa Israel di Babilonia, enam abad sebelum Yesus, Palestina tunduk kepada Kerajaan Persia, Yunani, dan Kekaisaran Romawi. Secara internal masyarakat Palestina dikuasai oleh raja-raja dan pejabat boneka yang ditunjuk oleh penguasa Roma. Selain pejabat-pejabat boneka, masih ada kelas pemilik tanah yang kaya raya dan kaum rohaniwan kelas tinggi yang suka menindas rakyat demi kepentingan dan kedudukan mereka. Golongan-golongan ini sering memihak penjajah supaya mereka tidak kehilangan hak istimewa atau nama baik di depan penjajah, karena Roma mempunyai kekuasaan mencabut hak milik seseorang.
    Puncak kekuasaan politik adalah procurator Yudea. Ia harus seorang Romawi. Ia berwenang menunjuk raja dan Imam Agung. Di Yudea, Imam Agung berperan di bidang politik sebagai raja selain sebagai pemimpin agama. Di Galilea kekuasaan dipegang oleh raja Herodes Antipas.
    Dominasi militer terlihat dengan kehadiran tentara Romawi di mana-mana. Mereka diambil dari Siria atau Palestina, tetapi tidak dari kalangan Yahudi.
Situasi yang menekan kadang-kadang tidak tertahankan, sehingga timbul pemberontakan yang umumnya digerakkan oleh kaum Zelot yang bermarkas di Galilea. Namun, pemberontakan kaum Zelot ini selalu dapat dipadamkan/ditumpas. Penumpasan kaum pemeberontak (Zelot) ini biasanya membawa korban nyawa yang tidak sedikit.

2. Situasi Sosio-Ekonomi
   Penduduk desa biasanya hanya memiliki lahan-lahan kecil untuk usaha pertanian. Sebagian besar tanah dikuasai oleh para tuan tanah yang kaya dan mereka tinggal di kota-kota. Lahan-lahan luas yang dikuasai oleh para tuan tanah itu digunakan untuk menanam jagung dan peternakan besar. Para tuan tanah yang tinggal di kota-kota itu praktis menjadi pengemudi roda ekonomi kota dan perdagangan internasional. Rakyat kebanyakan biasanya hanya menjadi penggarap tanah (buruh tani) atau pengembala ternak milik tuan-tuan tanah itu.
    Kondisi ekonomi sebagian besar penduduk (rakyat) hanya pas-pasan, bahkan kurang untuk mencukupi kebutuhan kelarga karena penghasilan mereka terlalu kecil. Dalam situasi yang parah seperti itu, rakyat masih dibebani berbagai macam pajak dan pungutan untuk pemerintah, untuk Bait Allah, dsb. Konon, pajak dan pungutan-pungutan tersebut dapat mencapai 40% dari penghasilan rakyat.

3. Situasi Sosial – Kemasyarakatan
   Masyarakat Palestina terbagi dalam kelas-kelas. Di daerah pedesaan terdapat kelas-kelas atau kelompok sosial, yaitu tuan tanah besar, pemilik tanah kecil, perajin, kaum buruh, dan budak.
   Di daerah perkotaan terdapat beberapa lapisan kelas sosial. Lapisan kelas sosial tertinggi adalah kaum aristokrat, imam-imam, pedagang-pedagang besar, dan pejabat-pejabat tinggi. Lapisan kelas sosial menengah bawah adalah para peerajin, pejabat-pejabat rendah, awam, dan kaum Lewi. Lapisan kelas sosial paling bawah adalah kaum buruh yang pada umumnya bekerja di sekitar Bait Allah.
   Di samping itu, terdapat juga kaum proletar marginal yang tidak terintegrasi dalam kegiatan ekonomi, yang terdiri atas orang-orang yang dikucilkan oleh masyarakat karena suatu hal (bukan karena kondisi ekonomi). Misalnya: para pendosa publik seperti pelacur dan pemungut bea cukai, penderita kusta yang menurut keyakinan Yahudi disebabkan oleh dosa si penderita atau dosa orang tuanya.
   Menurut orang Yahudi, dosa itu dapat berjangkit seperti kuman penyakit. Oleh sebab itu, orang baik-baik tidak boleh bergaul dengan orang-orang berdosa.
Selain adanya kelompok-kelompok berdasarkan kelas sosial tersebut di atas, terdapat juga berbagai bentuk diskriminasi, misalnya diskriminasi rasial, seksual, pekerjaan, dan sebagainya.

4. Situasi Sosio-Religius
    Hukum Taurat sangat mewarnai hidup religius orang-orang Yahudi. Kaum Farisi berusaha menjaga warisan dan jati diri Yahudi berdasarkan hukum Taurat. Mereka menyoroti ketaatan pada setiap pasal hukum Taurat. Bagi mereka, menjadi rakyat Tuhan berarti taat pada setiap pasal hukum Taurat. Mereka berusaha menerapkan hukum Taurat pada setiap segi kehidupan. Tetapi, mereka sendiri sangat memilih-milih dalam ketaatan mereka.
   Menaati hukum Tuhan berarti menaati secara ketat terhadap setiap pasal hukum Taurat. Orang-orang Farisi gemar memperluas tuntutan-tuntutan kebersihan yang berlaku untuk para imam bagi seluruh masyarakat Israel. Mereka menafsirkan dan kadang-kadang memanipulasi hukum Taurat demi kepentingan mereka sendiri, sehingga sering mendatangkan beban yang tidak tertahankan bagi rakyat kecil.

   Singkatnya, rakyat kebanyakan di Palestina sangat tertindas pada saat Yesus muncul. Mereka ditindas secara politis, ekonomis, sosial, bahkan religius.

B.   PAHAM-PAHAM TENTANG KERAJAAN ALLAH

     Dalam situasi tertindas, bangsa Israel sangat merindukan kedatangan Mesias dan Kerajaan Allah. Namun, paham mengenai Kerajaan Allah di kalangan bangsa Israel dipahami secara berbeda-beda.

1. Paham Kerajaan Allah yang Berciri Nasionalistis
Paham ini dihayati oleh kaum Zelot. Kegiatan mereka bertujuan membebaskan bangsa Israel dari kuasa politik penjajah kafir. Kaum Zelot berjihad untuk mengusir kaum kafir. Mereka berharap dengan kebangkitan nasionalisme, kemenangan bangsa Israel dapat tercapai dan Kerajaan Allah tercipta.

2. Kerajaan Allah Menurut Pandangan para Apokaliptik
Aliran ini percaya akan datangnya penghakiman Allah, karena dunia ini sudah jahat dan akan digantikan oleh dunia baru. Dalam dunia baru itu, yang baik akan dianugerahi kebakaan dan yang jahat akan dihukum.
Menurut pandangan aliran ini, Kerajaan Allah adalah sebuah kenyataan pada akhir zaman. Dunia ini atau zaman ini sudah terlalu jahat dan jelek. Setelah zaman yang jahat ini hilang lenyap dibinasakan oleh Allah, maka Kerajaan Allah akan menjadi kenyataan di bumi baru dan langit baru yang dijadikan Allah.

3. Kerajaan Allah Menurut Pandangan para Rabi
Allah sekarang sudah meraja secara hukum, sedangkan di akhir zaman Allah menyatakan kekuasaan-Nya sebagai Raja semesta alam dengan menghakimi dan menyatakan kepada sekalian bangsa. Bangsa Israel yang dikuasai oleh orang-orang kafir (karena dijajah oleh bangsa Romawi yang dianggap kafir) merupakan akibat dari dosa-dosanya. Jika bangsa Israel melakukan hukum Taurat, maka penjajah akan dipatahkan. Karena itu, mereka yang sekarang taat pada hukum Taurat sudah menjadi warga Kerajaan Allah. Tetapi, jika tidak melakukan hukum Taurat, maka banagsa Israel akan terus dijajah dan diperintah oleh kaum kafir.

source:madmikesamerica.com


C.   KERAJAAN ALLAH YANG DIWARTAKAN YESUS

Kerajaan Allah yang diwartakan OLEH Yesus lebih mirip dengan pandangan para rabi dan para nabi. Allah mulai meraja, terutama dalam diri Yesus, dan akan mencapai kepenuhan-Nya pada akhir zaman. Ketika Yesus berkeliling di Palestina untuk mewartakan Kabar Baik dan melakukan berbagai perbuatan baik, termasuk mukjizat-mukjizat-Nya, menjadi nyata bahwa Kerajaan Allah sebenarnya mulai dibangun di tengah umat yang percaya.
Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus secara singkat dapat dikatakan sebagai berikut:

Kerajaan Allah adalah Allah yang meraja atau memerintah. Oleh karena itu, manusia harus mengakui kekuasaan Allah dan menyerahkan diri (percaya) kepada-Nya, sehingga terciptalah kebenaran, keadilan, kesejahteraan, dan kedamaian.
Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus akan mencapai kepenuhannya pada akhir zaman. Di akhir zaman itulah, Allah benar-benar akan meraja. Dalam rangka ini, Kerajaan Allah terkait dengan penghakiman terakhir dan ukuran penghakiman adalah tindakan kasih. Mereka yang melaksanakan tindakan kasih masuk ke dalam Kerajaan Allah (bdk. Mat 25: 31-45).
Kerajaan Allah yang mencapai kepenuhannya pada akhir zaman itu kini sudah dekat, bahkan sudah datang dalam sabda dan karya Yesus. Oleh karena itu, orang harus menanggapinya dengan bertobat dan percaya kepada warta yang dibawa oleh Yesus.
Kerajaan Allah adalah kabar mengenai masa depan dunia, di mana yang miskin tidak lagi miskin, yang lapar akan dipuaskan, yang tertindas tidak akan menderita lagi, yang tertawan akan dibebaskan. Namun, untuk mencapai masa depan yang demikian perlu perjuangan. Itulah sebabnya, Yesus terus-menerus berjuang supaya hal itu benar-benar terwujud. Selama hidup-Nya Yesus terus-menerus berjuang supaya hal itu benar-benar terwujud. Seluruh hidup Yesus sampai Ia mengorbankan hidup-Nya di kayu salib adalah untuk mewujudkan Kerajaan Allah, sehingga orang benar-benar mengalami damai sejahtera, sukacita, keadilan, dan kebenaran.
Perjuangan Yesus itu belum selesai, Yesus memberi tugas kepada para pengikut-Nya untuk melanjutkan perjuangan itu, agar Allah sungguh-sungguh meraja.



0 comments:

Post a Comment