Theology,Technology, and Philosophy, ENJOY!!

Materi Pendidikan Agama Kaloik SD

Kunjungi Chanel DMC Yos Sudarso

Materi Pendidikan Agama Katolik SMA/SMK

Kunjungi Chanel DMC Yos Sudarso di Youtube

Materi Pendidikan Agama Katolik untuk SMP

kunjungi Chanel DMC Yos Sudarso

Showing posts with label Tesis BA. Show all posts
Showing posts with label Tesis BA. Show all posts

Thursday, January 31, 2013

Gereja diutus oleh Kristus untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah

Gereja diutus oleh Kristus untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah

Gereja diutus oleh Kristus (AG 5)
          Dasar perutusan Gereja adalah Yesus Kristus. Perutusan Gereja bersifat ilahi, seperti dirumuskan GS 89:”berdasarkan perutusan ilahi-Nya, Gereja mewartakan Injil serta menyalurkan kekayaan rahmat kepada semua orang”. Dasar perutusan Gereja adalah perutusan Putera dan Roh Kudus menurut rencana Bapa (AG 2-6). Dalam LG 17 dikatakan bahwa tugas perutusan Gereja berasal dari perintah Kristus. Perintah ini diterima oleh Gereja dari pewartaan para Rasul (Mat 28,19-20). Perintah Kristus akan perutusan Gereja ini juga didasarkan pada perutusan-Nya sendiri (Yoh 20,21). Berdasarkan Roh Kudus pula Gereja melaksanakan perutusan-Nya . AG 2 menegaskan bahwa sifat misioner Gereja adalah Trinitaris artinya bersal dari perutusan Putera dan Roh Kudus menurut rencana Bapa. Pewartaan itu harus dilaskanakan sampai keujung bumi (Kis 1:8). Secara hirarkis dapat digambarkan bahwa perutusan Gereja sebagai berikut: Allah Bapa mengutus Putera, Putera mengutus para Rasul (cikal bakal Gereja), Gereja atas dorongan Roh Kudus melaksanakan perutusannya.
          Pertanyaan lebih lanjut adalah bagaimana perutusan Putera oleh Bapa itu dilaksankakan sehingga menjadi titik pijak bagi Gereja untuk melaksanakan perutusannya? Yesus melaksanakan perutusan-Nya dalam sabda, karya serta wafat dan kebangkitan-Nya. Pokok pewartaan Yesus adalah Kerajaan Allah. Yesus mewartakan Kerajaan Allah yang akan datang dengan segera (Mrk 1,15).
          Mengapa Gereja diutus oleh Kristus? AG 5 mengatakan, “Kristus mendirikan Gereja sebagai sakramen keselamatan.” Dengan demikian Yesus mempunyai maksud dalam mendirikan Gereja yaitu untuk mengantar semua orang dan bangsa kepada iman, kebebasan dan damai dalam Kristus. Dengan kata lain Kristus mendirikan Gereja agra semua orang dibawa kepada keselamatan. Dengan maksud itu pulalah Kristus mengutus Gereja. Gereja diutus oleh Kristus supaya melanjutkan apa yang menjadi pewartaan Yesus sendiri.
          Apa tugas perutusan Yesus? Sebagaimana perutusan Putera yaitu mewartakan Injil Kerajaan Allah, demikian pula Gereja mendapat perutusan yang sama. Gereja diutus oleh Kristus untul mewartakan Injil Kerajaan Allah. Kerajaan Allah merupakan simbol yang diambil dari kehidupan politik (Mzm 72). Simbol ini mengungkapkan relasi antara Allah dan manusia. Dari pihak Allah: Kerajaan Allah adalah Allah yang mewahyukan diri dan memberikan diri kepada manusia. Dari pihak manusia, Kerajaan Allah adalah situasi dimana manusia mengalami Allah yang merajai kehidupan.

Gereja diutus mewartakan Injil Kerajaan Allah
          Perutusan Gereja bersifat universal (LG 1). Gereja menerima perutusan ilahi yang dipercayakan kepada pada Rasul (LG 20), untuk menyinari dunia dengan amanat Injil (LG 5; GS 41; GS 92) dan untuk menampakkan serta menyalurkan cinta kasih Allah terhadap semua orang dan segala bangsa (AG 10). Perutusan Gereja bersifat religius, manusiawi dan menyangkut keselamatana rohani dan jasmani (GS 11, 42, 89, AA 5-6). Untuk menjalankan perutusannya Gereja menggunakan sarana-sarana dan upaya-upaya jasmani (LG 8, GS 76).
          Kalau Gereja mewartakan Injil Kerajaan Allah, artinya Gereja berpatisipasi dalam perutusan Putera yang mewartakan Injil Kerajaan Allah. Isi Injil Kerajaan Allah adalah Kristus yang mewartakan kedatangan Kerajaan Allah (LG 5) sekaligus yang juga tanda Kerajaan Allah, karena dalam diri Yesus mulailah Kerajaan Allah itu (DV 17). Ada empat aspek yang dapat dilihat dari pewartaan Gereja ini:
1.     Pewartaan Kerajaan Allah bertitik tolak dari situasi dosa dan penderitaan. Maka mewartakan Kerajaan Allah berarti mewartakan pembebasan manusia dari situasi negatif tersebut. Pembebasan ini tidak menyagkut aspek rohani saja, tetapi juga yang jasmani. Maka pewartaan Kerajaan Allah menyagkut tindakan politis (publik dan kemasyarakatan). Aspek ini disebut dengan aspek soteriologis.
2.    Pewartaan Kerajaan Allah menyangkut pewartaan bahwa Allah adalah Bapa bagi semua orang (Mat 5,45). Pengakuan ini mengandung panggilan Gereja untuk menerima semua orang sebagai saudara dalam keluarga Allah. Maka Gereja mewartakan Kerajaan Allah sama halnya dengan mewartakan suatu persaudaraan sejati antar manusia. Aspek ini disebut aspek teologis.
3.    Pewartaan Kerajaan Allah merupakan suatu proses dinamis dan tidak akan pernah selesai. Proses ini menuju kepada kepenuhannya pada akhir zaman. Ini merupakan aspek eskatologis.
4.    Pewartaan Kerajaan Allah berhubungan erat dengan Yesus Kristus. Dalam terang dan kekuatan Kristus kita bisa terbuka terhadapa segala gerak yang meringankan penderitaan orang tanpa pandang bulu. Ini aspek kristologis.


Monday, January 28, 2013

Gereja Dilayani oleh hirarki

Gereja Dilayani oleh hirarki


Apa itu hirarki
Fungsi dan kedudukan hirarki dalam Gereja langsung berhubungan dengan struktur sakramental Gereja. Hirarki termasuk struktur sosial Gereja, namun demikian Gereja tidak ditentukan dari struktur sosialnya. Hirarki merupakan organ Gereja dalam pelaksanaan sosio-historisnya dan oleh karena itu fungsinya harus dapat disoroti dari sudut sosiologis.

Struktur hirarki
Pada prinsipnya yang termasuk dalam hirarki adalah Uskup, Imam dan Diakon.
1.     Uskup (LG 19-27)
Tugas pokok uskup adalah pemersatu dan pemimpin umat. Tugas ini terbagi menurut tiga bidang kehidupan Gereja: 1) tugas pewartaan (LG25), 2)tugas perayaan (LG26) sebagai pengudus/imam 3)tugas pelayanan (LG 27) atau penggembalaan.
2.    Para imam (LG 28) dan Diakon (LG 29)
Keduanya adalah pembantu uskup yang menerima tahbisan dan menjadi anggota hirarki. Imam adalah perpanjangan tugaa uskup untuk ketiga tugas diatas. Diakon walaupun sudah ditahbiskan baru bisa menjalankan tugas pelayanan.

Fungsi Hirarki
          Dalam Ef 4: 12 jelas bahwa fungsi pokok hirarki adalah mempersatukan umat dalam usahanya untuk membangun Gereja. Namun demikian disini perlu diperhatikan bahwa hirarki bukan prinsip kesatuan Gereja, tetapi organnya. Prinsip kesatuan Gereja adalah Roh Kudus (LG 4; 7b; 13a; 15, 25c). Kekhususan fungsi hirarki itu ditentukan oleh dua hal:
1.     Tugas hirarki adalah tugas Gerejani, artinya tugas untuk Gereja dalam pelaksanaan sosio-historisnya. Tugas Gerejani ini harus dibedakan dari tugas Gereja. Yang terakhir merupakan kewajiban seluruh umat kaum beriman dan tidak dikhususkan kepada hirarki saja. Seluruh Gereja harus merasul demi keselamatan manusia, yang harus dinyatakan dakam dunia. Tetapi perwujudan hidup Gereja dalam dunia dikhususkan kepada awam. Tugas istimewa hirarki terletak di bidang gerjani, artinya: di bidang eksplisitasi iman dalam bentuk khusus yang disebut Gereja. Hirarki dalam menjalankan tugas khasnya harus selalu mengembangkan sikap Gereja yang terbuka ke arah dunia. Hirarki harus melayani umat dalam pembangunan Gereja sedemikian rupa, sehingga Gereja menjadi semakin mampu menjalankan tugasnya dalam dunia secara utuh dan menyeluruh.
2.    Tugas hirarki adalah tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman. Tidak setiap orang yang menjalankan tugas Gerejani adalah anggota hirarki. Hanya disebut anggota hirarki mereka yang ikut bertanggungjawab untuk perkembangan hidup umat. Hirarki tidak berdiri diatas umat (LG 32c) namun sederajat dalam martabat dan kegiatan dalam membangun tubuh Kristus. Akan tetapi hirarki mempunyai fungsi memimpin dan membimbing. Bukan dalam arti menentukan hidup Gereja, tetapi dalam arti bahwa hirarki harus mempersatukan umat dalam iman., “dengan petunjuk, nasihat dan teladan, tetapi juga dengan kewibawaan dan kekuasaan kudus” (LG 27a). Dari satu pihak hirarki harus mempersatukan umat sebagai “saudara diantara saudara”, tetapi dilain pihak tugas itu adalah tugas kepemimpina dalam arti yang sesunggunhnya. Secara prinsipiil dapat disebut tiga bidang pengungkapan iman: 

  1. seluruh hidup yang konkrit. 
  2. ajaran Gereja. Disini ada bahaya hirarki berpegang teguh pada rumusan yang ada.
  3. Liturgi. Dalm bidang liturgi ungkapan iman tidak begitu jelas, tetapi jauh lebih hidup. Pusat hidup liturgis adalah sakramen-sakramen dan pusat sakramen adalah ekaristi. Maka tugas hirarki disini adalah mempersatukan umat sekitar altar.


Gereja Diwujudkan dalam communio dari paguyuban-paguyuban

Gereja Diwujudkan dalam communio dari paguyuban-paguyuban

          Konsili Vatikan II merefleksikan karya Roh Kudus di dalam Gereja dengan menggunakan gagasan communio. Secara mendasar, communio berarti persekutuan dengan Allah. Dalam, LG 2 dikatakan: “Berdasarkan pertimbangan yang maha bebas dan rahasia, kearifan dan kebaikan-Nya, Bapa Abadi menciptakan alam semesta, dan memutuskan untuk mengangkat manusia berpartisipasi dalam hidup ilahi.” Sama seperti dalam mysterium dalam judul bab 1 LG, begitu juga artikel 2 menekankan, bahwa Gereja sebagai communio berakar dalam keputusan Allah yang abadi untuk menciptakan manusia dengan tujuan agar ia dapat memperoleh kebahagiaan abadi dalam hidup ilahi, dalam communio Allah Tri Tunggal sendiri.
          Hal yang sama dapat kita temukan dalam konsitusi tentang Wahyu: “Maka dengan wahyu ini Allah yang tak kelihatan (bdk. Kol 1:15; Tim 1:17), karena cinta kasihNya yang melimpah ruah, menyapa manusia sebagai sahabat (bdk. Kel 33:11; Yoh 15:14-15) dan bergaul dengan mereka (bdk. Bar 3:38), guna mengundang dan menerima mereka dalam persekutuan-Nya” (DV 2). Begitu juga Ad Gentes a.3 menyebut “perdamaian dan persekutuan dengan Dia” sebagai alasan Allah untuk melaksanakan karya keselamatan yang khusus.
          Konstitusi pastoral Gaudium et Spes melihat “landasan yang unggul martabat manusia terletak dalam panggilannya untuk bersatu dengan Allah.” Maka baru dalam communio dengan Allah itu manusia dapat mencapai kepenuhan hakikatnya.
          Communio inilah yang merupakan tujuan universal seluruh sejarah umat manusia, terlaksana secara istimewa di dalam sejarah itu di dalam diri Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah pengantara. Sebagai Putra Allah, Ia menerima kodrat manusia supaya dengan demikian kita manusia dapat mengambil bagian di dalam kodrat ilahi. “Maka melalui jalan inkarnasi sejati, Putra Allah berusaha menjadikan manusia mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (AG 3). Menurut GS 22 Putra Allah seakan-akan mempersatukan diri dengan setiap manusia ketika Ia menerima kodrat manusiawi dalam inkarnasi: “Karena di dalam jelma-Nya menjadi daging, Putra Allah telah mempersatukan diri-Nya atas cara tertentu dengan setiap orang”.
          Communio antara Allah dan manusia yang diciptakan Yesus Kristus dalam hidup-Nya yang unik dan historis-konkret, dilanjutkan oleh Roh Kudus yang berdiam dalam hati orang beriman . Maka misteri Gereja adalah bahwa Roh dan melalui Kristus, kita manusia memiliki jalan kepada Bapa dan boleh mengambil dalam ‘kodrat ilahi’, dalam hidup communio Allah Tritunggal.  

Diwujudkan dalam paguyuban-paguyuban
          Melalui Sabda dan Sakramen manusia dipersatukan dengan Allah dan dimasukkan ke dalam persekutuan para orang beriman. Persekutuan orang beriman itu pada tempat pertama dan utama ialah jemaat setempat yang berkumpul untuk merayakan ekaristi. Tetapi jemaat-jemaat setempat itu dipanggil untuk ber-communio satu sama lain. Dengan demikian terbentuklah Gereja universal sebagai communio antara Gereja-gereja setempat yang masing-masing dibangun oleh Ekaristi sebagai komunio setempat.
          Communio antara jemaat-jemaat setempat diperlihatkan dan dijamin pada tingkat keuskupan oleh persatuan para pastor bersama Uskup sebagai pastor utama dalam keuskupannya. Komunio antara Gereja-gereja partikelir (keuskupan) diperlihatkan oleh para uskup yang merupakan satu colegium dengan Uskup Roma sebagai kepalanya. Perlu diperhatikan dengan seksama bahwa bahwa kolegium para uskup bersama Paus disebut asas dan landasan kelihatan dari kesatuan, sebab pada intinya kesatuan itu dijamin dan dan dilandasi oleh Allah Roh Kudus, Sang Pemersatu.

Kesatuan Gereja Yesus Kristus


Kesatuan Gereja Yesus Kristus


           Kristus merupakan dasar kesatuan Gereja. Ciri kesatuan itu nampak dalam pembabtisan (1Kor 12:13) dan Ekaristi (1Kor 10:17). Konsili Vatikan II memahami adanya hubungan Gereja dengan Allah Triniter. Gereja muncul atau berasal dari Bapa, dilaksanakan oleh Putera dan diteruskan/disempurnakan oleh Roh Kudus. Gereja muncul dari kehendak Bapa dan direalisasikan dalam sejarah manusia. Ciri kesatuan Gereja Yesus Kristus kelihatan nampak dalam sifat-sifat Gereja Kristus: satu, kudus, katolik dan apotolik.

Satu
          Salah satu identitas Gereja adalah kesatuannya. Prinsip dari kesatuan ini adalah kesatuan Allah yang tunggal dalam tiga Pribadi (Bapa, Putera dan Roh Kudus). Allah memanggil orang yang beriman kepada Kristus untuk menjadi umat Allah (1Ptr 2:5-10) dan membuat mereka menjadi satu tubuh (1Kor 12:12). Identitas kesatuan ini juga nampak dalam hubungan antara para anggota sendiri yakni dalam iman, dalam cintakasih dan dalam ‘communio’. Kesatuan tidak berarti keseragaman. Juga dalam hubungan antara para anggota dipertahankan suatu identitas yang dinamis. Sebab hubungan itu adalah kesatuan iman. Dengan kesatuan iman itu tidak dimaksudkan suatu kesatuan yang rohani belaka, tetapi dari lain pihak kesatuan juga tidak boleh dibatasi pada bidang ungkapan iman belaka. Sebagaimana iman setiap anggota Gereja adalah suatu sikap iman yang terarahkan kepada Kristus, begitu juga Gereja sebagai keseluruhan mempunyai pengarahan iman yang sama. Kesatuan itu mendapat ekspresi simbolisnya yang paling nyata dalam sakramen-sakramen, khususnya ekaristi; tetapi juga dalam kesatuan ajaran.
          Secara historis sifat kesatuan mengalami perkembangan. Dalam Gereja Purba, Gereja disebut satu karena kesatuan iman akan Tuhan yang mulia. Tetapi mulai abad kedua dicari norma atau patokan yang lebih konkrit untuk kesatuan itu. Semula yang menjadi patokan adalah Kitab Suci dan Syahadat. Pada abad keempat, kesatuan itu diwujdkan dalam partisipasinya dalam ekaristi. Ternyata tekanan pada segi yuridis mengakibatkan terpecahnya kesatuan kristiani, khususnya pada zaman reformasi. Kesatuan Gereja dalam pelaksanaan historisnya baru dapat menjadi kesatuan sebagai perwujudan identitas Gereja, kalau semua itu tidak hanya memperlihatkan –bagaimanapun juga bentuknya- tetapi sekaligus juga melaksanakan kesatuan dalam iman. Oleh karena itu kesatuan Gereja tidak pernah merupakan sifat yang statis, tetapi harus dilaksanakan dalam perkembangan historis. Communio adalah pelaksanaan kesatuan yang nyata. Maka kesatuan Gereja pertama-tama terlaksana dalam kesatuan dengan Kristus dalam perayaan ekaristi, yang kemudian juga dinyatakan dalam hubungan para anggota Gereja setempat. Communio antara para Gereja lokal akhirnya membentuk kesatuan Gereja universal.

Kudus
          Dari LG a. 39 jelaslah bahwa kekudusan Gereja tidak dimaksudkan kesalehan para anggotanya. “Kita percaya bahwa Gereja….tak dapat kehilangan kesuciannya. Sebab Kristus Putera Allah, yang bersama dengan Roh dipuji bahwa “hanya Dialah yang suci”. Gereja menerima kesucian sebagai anugerah dari Allah dalam Kristus oleh iman. Kesucian tidak datang dari Gereja, tetapi dari Allah yang oleh Roh mempersatukan Gereka dengan Kristus. Dilihat dari segi Gereja pokok kesucian adalah iman, harapan dan kasih sebagai hubungan pribadi dengan Allah.
          Dalam Perjanjian Lama, kata ‘kudus’ menterjemahkan arti kata Yunani: “hieros” dan “hagios”. Arti kedua kata itu kurang lebih sama, yakni “ilahi”, “mendasyatkan” . Dalam LXX kata ‘hagios’ dipakai untuk menterjemahkan kata ibrani “KDS”. Dari etimologi kata KDS barangkali berarti: yang dikhususkan, dipisahkan, jadi bidang sakral. Dalam setiap agama ada tempat, waktu, barang, orang dlsb yang disebut ‘suci’ karena secara khusus diperuntukkan untuk Yahwe. Keistimewaan Israel bukan bahwa mereka mempunyai ibadat atau hari raya religius. Keunikan Israel adalah bahwa Yahwelah Allah Israel dan bahwa Yahwe mempunyai hubungan serba istimewa dengan Israel.
          Dalam Perjanjian Baru  ciri kekudusan Gereja adalah karena hubungannya dengan Roh Kudus. Dalam PB, kekudusan dikerjakan oleh Roh Kudus: “menjadi suatu persembahan yang berkenan pada Allah, dikuduskan oleh Roh Kudus” (Rom 15,16; 1Kor 1:2). Kekudusan PB adalah kekudusan iman, kekudusan yang dikerjakan oleh Allah (lih. Yoh 17:17, 1Tes 5:23; Ibr 10: 10.4): “menjadi orang pilihan karena, karena pengetahuan Allah, dalam pengudusan Roh, untuk ketaatan kepada Kristus” (1Petr 1:2). Dengan demikian kaum beriman disebut “orang-orang tercinta oleh Allah dan dikuduskan karena terpanggil” (Rom 1:7); supaya kita hidup kudus dan tak bercela (Ef 1:4). Gereja disebut kudus karena pusatnya adalah Allah.
           
Katolik
          Kata ‘katolik’ semula berarti: Gereja yang universil, dilawankan dengan Gereja setempat. Arti itu cocok dengan arti kata yang profan: umum, dilawankan dengan kata khusus. Dalam abad berikutnya (misal dalam Martyrium Polycarpi) masih tetap mempunyai arti Gereja universal. Tetapi disamping itu juga dipakai dengan arti: Gereja yang benar, yang ortodox, yang dilawankan dengan bidaah. Dalam abad 4, kata ‘katolik’ mempunyai arti yang luas: Gereja disebut katolik karena tersebar di seluruh dunia, dari ujung bumi yang satu ke ujung bumi yang lain; tetapi juga sebab secara umum Gereja mengajarkan segala ajaran yang harus diketahui orang mengenai hal-hal yang kelihatan dan yang tak kelihatan, surgawi dan duniawi dsb. Istilah ‘katolik’ sudah ada dalam syahadat paling tua, namun secara eksplisit baru dipakan dalam konsili Konstantinopol (381), dengan dikatakan “Gereja yang satu, kudus, katolik. Sejak reformasi arti geografis-kuantitatif semakin ditekankan: Gereja disebut ‘katolik’ karena tersebar dimana-mana. Dalam LG a. 13 dikemukakan arti pneumatis: Gereja disebut ‘katolik’ karena kepenuhan oleh Roh Kudus, yang menuju kepada kepada pelaksanaan karya keselamatan dalam seluruh Gereja. Oleh sebab itu kekatolikan Gereja dapat dirumuskan: kepenuhan rahmat Kristus untuk kepenuhan dunia melalui Gereja. Jadi dengan kekatolikan Gereja dimaksudkan keterbukaan rahmat atau karya keselamatan bagi seluruh dunia.


Apostolik
          Gereja disebut ‘apostolik’, karena berhubungan dengan para Rasul yang diutus oleh Kristus. Keapostolikan Gereja adalah sifat identitas: Gereja sekarang sama dengan Gereja para Rasul. Bahkan identitas Gereja sekarang tak lain dan tak bukan adalah kesamaan dengan Gereja para rasul. Namun demikian sifat apostolik Gereja tidak pertama-tama berarti hubungan historis dengan Rasul-rasul, melainkan menyatakan kesamaan seluruh Gereja sekarang dengan seluruh Gereja zaman Rasul. Kesamaan itu dinyatakan dalam segala bidang kehidupan Gereja, terutama dalam hal ajaran, ibadat dan struktur. Tetapi kesatuan ini pun bersifat dinamis: keapostolikan Gereja tidak berarti bahwa Gereja sekarang merupakan ‘copy’ dari gereja purba. Kesamaan terdapat dalam pengarahan iman yang sama.
          Dan oleh karena pewartaan para Rasul serta pernyataan iman mereka de fakto terungkapkan dalam Kitab Suci, maka sifat apostolik Gereja akan tampak terutama dalam kesetiaan kepada Injil. Injil sebagai ungkapan iman harus disimpan dan diteruskan  dalam iman. Kesatuan dengan Gereja Purba adalah kesatuan yang hidup, yang pusatnya adalah Alkitab yang dalam keseluruhannya disebut Tradisi. Secara konkrit tradisi berarti suatu konfrontasi terus menerus antara situasi Gereja sekarang dengan pewartaan Alkitab. Disini termasuk pula realita tradisi hirarki. Keapostolikan Gereja merupakan kesatuan lahiriah Gereja yang dulu dijamin terutama oleh pemimpin Gereja Purba, sekarang dilanjutkan dengan kepemimpinan hirarkis Gereja.

Gereja dipanggil untuk menampilkan misteri keselamatan dalam Yesus Kristus

Gereja dipanggil untuk menampilkan misteri keselamatan dalam Yesus Kristus

          Persatuan Gereja dengan Kristus membawa konsekuensi pada partisipasi dalam tugas Kristus sendiri, yakni bahwa Gereja dipanggil untuk menampilkan misteri keselamatan dalam Yesus Kristus bagi dunia sekarang. Dalam LG bab I ditunjuk disana istilah “Misteri Gereja”. Dengan istilah ini mau ditujukkan hakikat Gereja sendiri. Kata “mysterion” dalam bahasa Yunani berarti suatu rahasia yang tersembunyi, biasanya berkaitan dengan suatu yang religius. Maka bagi orang Yahudi Kristen, kata itu mengungkapkan dengan tepat sekali rencana dan tindakan Allah yang seringkali tidak terduga. Maka kalau Gereja dipandang sebagai misteri, ini berarti Gereja dikaitkan dengan karya penyelamatan Allah sendiri.
          Pemahaman Gereja sebagai misteri ini ditegaskan kembali dengan paham “sakramen”. Dalam LG 1 dikatakan “Gereja itu dalam Kristus bagaikan sakramen”. Sacramentum dipakai dengan kata yang sama dengan misteri, meski asalnya berbeda. Oleh karena itu sakramen dipakai dalam arti misteri, yaitu segala peristiwa dimana karya keselamatan Allah terjadi.
          Jika Gereja dipanggil untuk menampilkan misteri keselamatan Allah dalam Yesus Kristus maka hal ini langsung berkait dengan rencana keselamatan Allah sendiri. Dengan menunjuk istilah sakramen, penjelasan Konsili cukup klasik: “tanda dan sarana persatuan dengan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia”. Allah menyapa manusia melalui tanda. Maka dapat dikatakan bahwa Kristus adalah sakremen pokok. Sedangkan Gereja merupakan sakramen Kristus. Artinya, keselamatan yang disampaikan oleh Kristus, disampaikan dalam Gereja. Gereja menjadi sakramen bukan dalam dirinya sendiri, tetapi dalam Kristus. Gereja mewartakan Kristus dan menyampaikan terang Kristus. Gereja sebagai “sakramen” sungguh merupakan tanda dan sarana keselamatan, meski selalu harus dipahami bahwa itu terjadi dalam Kristus.

Bagi dunia sekarang
          Dunia yang dimaksudkan KV II tidak pertama-tama berarti kosmis. Kalau bebricara mengenai dunia, Konsili berbicara sebuah realiats kehidupan manusia yang dinamis (GS 2). Aspek yang disinggung konsili: 1) kenyataan komunitas manusia beserta semesta yang menjadi lingkungan hidupnya. 2) kenyataan temporal manusia. 3) Dunia yang tercipta dan diselenggarakan Allah dsb.
          Istilah dunia lebih berfokus pada realitas antropologis. Panggilan Gereja untuk menampilkan misteri keselamatan Allah itu tetap relevan bagi dunia sekarang karena Gereja masih hadir di dunia, hidup bersamanya dan bertindak didalamnya. Gereja hadir bagaikan ragi dan penjiwa bagi masyarakat manusia yang harus diperbarui dalam Kristus dan diubah menjadi keluarga Allah (GS 40). Oleh karena itu, panggilan Gereja itu tidak bisa dipisahkan dari peranan Gereja bagi dunia sekarang sebagaimana tercantum dalam GS bagian 1 bab 4. Pada bagian ini disebutkan berbagai usaha yang dilakukan Gereja dalam perannya menampilkan keselamatan. Disatu pihak usaha itu dilakukan dengan bantuan yang diberikan kepada setiap orang, masyarakat melalui kegiatan manusiawi. Dilain pihak Gereja memperoleh bantuan dari dunia sekarang ini (kemajuan teknolgi). Dengan demikian ada hubungan timbal balik antara Gereja dan dunia (GS 40).


NB:
Pengertian Gereja:
1.     1). Dalam PL, dari qahal ke Gereja: Kata Gereja berasal dari kata ecclesia (Lat) atau ekklesia (Yun), yang berarti kumpulan, pertemuan atau rapat. Ekklesia menunjuk kepada umat yang menjawab panggilan Yahweh untuk beribadat atau mengadili sesuatu (Ul 9:10; Ul 23:31; Hak 21:5, 8; Mi 2:5). Kata ekklesia terjemahan dari kata Ibrani qahal. Qahal menunjuk peretmuan orang-orang untuk mengadakan Perjanjian Sinai (Ul 9:10; Ul 10:4; Ul 23:2). Di sini qahal berarti bangsa yang dihimpun Yahwe. Qahal juga memiliki arti himpunan para pemimpin Israel yang dikupulkan raja untuk mengambil putusan keagamaan atau kerumunan orang di sekitar persembahan dan ibadat (1Taw 20:5,14; 2Taw 3:2,4; Mz 22:23; Mz 89:61; Mz 149:1). Kata qahal dapat dibandingkan dengan kata edah, yang menunjuk pada kelompok orang tertentu yang sudah ditentukan untuk meninggalkan Mesir dan merayakan pesta Paska (kel 12:3). Kata ini juga berarti seluruh kelompok sebagai bangsa, yang menerima laporan mata-mata (bil 13:26; Bil 14:1), menyambut para pejuang kembali (Bil 31:12), dan menerima peratnggungjawaban para pemimpin (Yos 9:18). Kata edah selalu identik dengan Israel, seluruh bangsa Israel, dan tidak pernah dipakai untuk menyebut bangsa-bangsa bukan Israel. Jadi edah berarti umat perjanjian secara keseluruhan, sedangkan qahal berarti ungakapan resmi bagi perhimpunan yang berkumpul karena perjanjian itu. 
   2.     Dalam PB: Kata ekklesia hampir tak tertulis dalam keempat Injil, kecuali dalam Mat 16:18 dan Mat 18:17: a). Gereja menurut Matius dan Lukas: Mat 18:17 mengartikan Gereja sebagai sejumlah orang yang hidup dan bertemu di satu tempat dan memandang diri sendiri sebagai Israel sejati karena disatukan oleh YK. Dalam Mat 16:18 ditunjuk ekklesia sebagai perhimpunan eskatologis Umat Allah sejati. Menurut Lukas masa ekklesia adalah bagiam dari sejarah keselamatan, diantara kebangkitan Yesus dan parusia.
Ada beberapa pola Gereja dalam refleksi Lukas:
                     i.         Gereja adalah himpunan orang yang percaya kepada karya Allah. Karya Allah yang dimaksudkan yaitu karya Allah yang dialami Gereja Perdana sejak kebangkitan Yesus sampai parusia. Allah juga yang memberi hidup kepada Gereja (kis 14:11-16; Kis 17:22-29).
                    ii.        Gereja adalah paguyuban orang yang percaya akan karya Roh. Roh Yesus yang berkarya di tengah jemaat, menciptakan Gereja dan menguatkan para rasul, seperti telah dijanjikan-Nya (Luk 4:4); Kis 1:4,8).
                  iii.        Gereja adalah himpunan oarng yang bersatu karena sabda para rasul. Oleh dan dalam sabda para rasul itu Roh Kudus mewahyukan kehendak-Nya. Inti isi pewartaan mereka adalah kebangkitan YK dari antara orang mati. Dalam pewartaan sabda mereka menyampaikan kabar gembira kepada seluruh manusia atas kuasa RK (Kis 26:23).
                   iv.        Gereja adalah umat yang beriman, berdoa dan tersusun rapi. Umat mengimani isi pewartaan dan berbuat selaras dengan pewartaan itu. Gambaran yang bagus mengenai kehidupan jemaat ada dalam Kis 2:41-47.
3.    Gereja menurut Paulus: Dalam surat-surat Paulus, Gereja digambarkan sebagai:
                     i.        Umat Allah dan ekklesia. Gereja dalam YK mempunyai kesinambungan dan sekaligus kekhususan dengan Umat Allah dalam PL. Gereja menjadi pemenuhan Israel.
                    ii.        Tubuh Kristus. Gambaran Gereja sebagai Tubuh Kristus mengandung lukisan tentang hubungan Gereja dengan Kristus, dengan dunia dan warganya serta hubungan antar warganya. Jemaah kristen adalah Gereja Kristus (Rm 16:16; 1Tes 2:14). Kristus memang ada dalam Tuguh-Nya yakni Gereja, namun Kristus merupakan kepala bagi jemaat-Nya (Kol 1:18) dan menjadi orientasi hidup Tubuh-Nya (bdk. Ef 4:15).
                  iii.        Kenisah Allah. Ini berkait dengan gambaran Gereja sebagai bangunan (Ef 2:19), rumah (Ef 2:19; Gal 6:10). Dengan kenisah dibuka pewartaan eskatologis yaitu harapan bagi keturunan Yahudi bahwa kenisah akan dipulihkan seperti dulu. Dalam Gereja sudah mulai terwujud kenisah eskatologis itu. Dalam kenisah baru ini Allah berkarya lewat Roh-Nya untuk memenuhi janji-Nya, "Aku akan tinggal diantara mereka, menjadi Allah mereka dan mereka menjadi umat-Ku" (Im 26:11; Yeh 37:26; Za 8:8).
                   iv.        Mysterium (rahasia). Gereja itu berasal dari rahasia penyelenggaraan ilahi. Hakikat Gereja adalah misteri Allah menyelamatkan manusia dalam YK (bdk. Kol 1:16). Paulus lebih sering memakai kata ekklesia, sebagai terjemahan kata qahal, untuk mengungkapkan peristiwa pemenuhan panggilan Allah yang bertolak dari pewartaan YK. Gereja memang peristiwa, terjadi dalam tempat tertentu. Gereja ada di banyak tempat, tetapi hanya ada satu Gereja karena satu baptisan, satu Tuhan dan satu meja (Ef 4:5).

Gereja disebut Tubuh Kristus dan Umat Allah

Gereja disebut Tubuh Kristus dan Umat Allah


Istilah Gereja
          Gereja berasal dari kata Portugis “Igreja”. Igreja berkaitan dengan bahasa Spanyol “Iglesia”, kata Perancis “Eglise”, kata latin “Eclesia” dan kata Yunani “Eklesia”. Kata “Eklesia” berarti sidang, perkumpulan, paguyuban pada umumnya. Kata itu malahan tidak dipergunakan untuk menyebut “perkumpulan ibadat”. Dalam Septuaginta kata ‘eklesia’ secara khusus hanya dipakai sebagai terjemahan kata Ibrani “qahal’. Qahal tidak selalu diterjemahkan dengan ‘eklesia. Dalam Kita Kejadian dan Bilangan “qahal” disalin dengan kata “synagoga”. Dan ditempat lain yang dipergunakan kata “ochlos” (kerumunan, misalnya Yer 31,8; Yes16,4; 17,4) atau “plethos” (kumpulan orang, misalnya Kel 12,6; 2Taw 31,18).

Gereja disebut Tubuh Kristus
Pandangan bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus mengacu pada paham mengenai keberadaan Gereja sebagai jemaat yang mempunyai hubungan timbal balik dengan Yesus Kristus (segi vertikal) dan dengan sesama anggotanya (segi horisontal). Istilah Tubuh Kristus sendiri berasal dari KSPB, secara khusus dalam tulisan Paulus.
Ø   KSPB
a)    Pengertian menurut Surat Roma (Rom. 12: 4-5) & Korintus (1Kor 12:12)
Disini Tubuh Kristus dipahami secara metafor/kiasan saja. Tekanan ada pada kesatuan relasi antar warga Gereja dalam Yesus Kristus (segi horisontal). Gereja disebut Tubuh terutama karena kerjasama antar anggotanya. Ada pelbagai kharisma tetapi saling melengkapi. Semua itu ada dalam Yesus Kristus. Kristuslah yang membuat Gereja disebut “Tubuh”. Segi horisontal mendapat tekanan disini.

b)    Pengertian menurut Surat Efesus (Ef 4:15-16) dan Kolose (Kol 1:18)
Disini Tubuh Kristus juga dipahami secara kiasan/metafor. Namun tekanannya ada pada hubungan Gereja (Tubuh) dengan Kristus (Kepala), bukan hubungan antar anggotanya. Yesus Kristus tidak dilihat sebagai bagian dari tubuh tetapi sebagai prinsip kehidupan seluruh tubuh. Dari-Nya kehidupan mengalir bagi Gereja. Segi vertikal mendapat tekanan.

c)    Catatan tambahanengertian menurut Surat Roma (Rom. an timbal balik dengan Yesus Kristus (segi vertikal) dan dengan sesama anggotanya (segi hori
Paham Paulus tentang Gereja sebagai Tubuh Kristus itu dapat dijelaskan labih lanjut dengan dua gagasan Paulus lainnya. Dua gagasan tersebut adalah:
1) Seringkali Paulus berkata bahwa “orang beriman hidup dalam Kristus”. Gagasan ini menunjuk pada kesatuan erat antara Kristus dengan orang Kristen. 
2) Paham ‘tubuh’ hanya boleh dikenakan kepada Gereja kalau paham ‘kepala’ dikenakan kepada Kristus. 
Latar belakang ‘kepala’ untuk Kristus itu rangkap: 
a) Dalam latar belakang ilmu kedokteran jaman itu (budaya Helenis) kepala dipandang sebagai sumber kehidupan tubuh. Maka paham ‘kepala’ mau mengungkapkan bawha Kristus merupakan sumber kehidupan bagi Gereja. Tetapi bukan secara fisik, sebab Kristus menggerakkan dan menghidupkan Gereja dengan mengasihinya, seperti seorang suami mengasihi isterinya (Ef 5,23; Kol.1,18).
b) Dalam latar belakang alam pikiran Yahudi kata ‘kepala’ dipakai dalam arti ‘pemimpin’. Kristus memimpin Gereja seperti Yahwe memimpin umat-Nya. disini paham ‘kepala’ mau mengungkapkan keunggulan serta kekuasaan Kristus (Ef 1:23; Kol 1:18) terhadap pemerintah-pemerintah dunai yang gelap ini (Ef 6:12)

    Yang pokok dalam pikiran Paulus bukanlah tubuh melainkan kepala. Kristus tidak dilihatnya sebagian dari tubuh melainkan sebagai prinsip kehidupan seluruh tubuh. Tubuh bukan saja dalam arti badan sosial atau lembaga tetapi dalam arti organisme hidup. Gereja disebut Tubuh Kristus karena mengambil bagian dalam hidup Kristus. Gagasan Gereja sebagai Tubuh Kristus ini diambil alih oleh KV II dalam LG 7.

Ø   Tradisi
a)     Ensiklik “Mystici Corporis” (Pius XII; 1943)
Dengan diterimanya hasil-hasil Konsili Vatikan I secara umum dalam Gereja Katolik maka segi organisasi dan institusional dari Gereja menjadi begitu ditekankan. Namun dikalangan para teolog muncul suara-suara yang menilai bahwa pandangan itu terlalu berat sebelah dan terlalu bercorak “benteng tertutup terhadap dunia modern yang jahat”. Mereka lalu mencari pembaharuan dari studi sejarah, khususnya paham Gereja zaman Bapa-bapa Gereja, dan dari Kitab Suci, terutama paham “Tubuh Kristus” dari Paulus.

Paus Pius XII mendukung usaha pembaharuan itu bahwa paham Gereja yang biasa terlalu sempit dan perlu diperbaiki dengan menggali kembali paham Kitab suci tentang Gereja sebagai dasar. Pius XII lalu menulis ensiklik Mystici Corporis. Pius XII ingin menggantikan gagasan dasar Gereja sebagai “organisasi pengajaran dan pengudusan religius” dengan paham Tubuh Kristus biblis. Maka juga ditekankan peran Roh Kudus dalam Gereja (RK dikatakan sebagai “jiwa Gereja), pentingnya kharisma-kharisma dan sebagainya.

Namun Pius sadar juga bahwa ia harus menghindari bahwa gagasan “Tubuh Kristus” itu meimbulkan salah paham. Salah paham utama yang dapat muncul adalah bahwa “Tubuh Kristus” itu dipandang sebagai suatu realitas batiniah atau rohani saja, terpisah dari Gereja yang kelihatan, khususnya lepas pimpinan yang kelihatan dan wewenangnya sebagai Guru dan Pengudus. Maka Pius menekankan segi kelihatan Tubuh Kristus dan peranan Hirarki. Bahkan terkesan terlalu kuat ditonjolkan. Akibatnya banyak orang menilai bahwa Mystici Corporis tidak berhasil menggantikan paham lama dengan paham biblis Tubuh Kristus, tetapi justru paham Tubuh Kristus dipakai untuk memperkuat dan meradikalkan lagi pandangan lama.

b)     Konsili Vatikan II
          Pemahaman Gereja sebagai Tubuh Kristus mendapat pembahasan tersendiri dalan Lumen Gentium (art 7). Secara singkat pemahaman itu diuraikan dalam dua tahap. Pertama, kesatuan organis anggota-anggota yang mempunyai bentuk dan fungsi yang berbeda (LG 7, al. 1-3), kedua gambaran gereja sebagai tubuh dengan Kristus sebagai Kepala (LG 7, al. 4-8). Namun demikian yang menjadi ide dasar ialah kesatuan dengan Kristus sendiri.
          Pertama-tama ditekankan kesatuan anggota-anggota Gereja. Dalam hal ini yang menjadi dasar kesatuan ialah “hidup Kristus yang dicurahkan kepada kaum beriman”. Kesatuan dengan Kristus itu secara khusus ditampakkan dalam permandian dan ekaristi. Dengan permandian umat “menjadi serupa dengan Kristus” (Rom 6,4-5) dan disatukan “menjadi satu tubuh” (1Kor 12:13). Sedangkan dalam ekaristi “kita secara nyata ikut serta dalam tubuh Tuhan, maka kita diangkat untuk bersatu diantara kita” (1Kor 10:17). Dengan demikian dalam babtisan dan ekaristi kesatuan dengan Kristus dan kesatuan dengan jemaat dinyatakan. Namun disadari bahwa anggota jemaat itu bermacam-macam. Dalam Tubuh Kristus ada “aneka ragam anggota dan jabatan”, tetapi itu semua “supaya bermanfaat bagi Gereja”, karena itu semua berasal dari Roh yang satu dan sama.
          Kedua, kesadaran bahwa yang menjadi pusat persatuan adalah Kristus sendiri dikembangkan dalam paham Kristus sebagai “Kepala Tubuh” (Kol 1:15-18). Dialah yang pertama-tama dari segalanya. Kesatuan dengan Sang Kepala ini membawa konsekuensi bagi anggota-anggota Gereja. Mereka yang dipanggil dalam kesatuan dengan Kristus juga dipanggil untuk menyerupai Kristus (Gal 4:19). Gagasan Kristus sebagai Kepala Tubuh juga berarti bahwa Kristuslah yang menjadi sember kehidupan bagi Gereja. Kehidupan dan pertumbuhan seluruh tubuh berasal dari kepala yang selalu memberikan aneka kurnia. Dari uraian diatas, nampak bahwa paham tubuh sebagai badan atau lembaga ditinggalkan. Yang ditekankan adalah hubungan badan dengan Kristus sendiri.

Gereja sebagai umat Allah
          Konsili Vatikan II menyebut Gereja sebagai “Umat Allah”. Dengan demikian diberi tekanan pada segi ‘communio’ dalam kehidupan beriman. Disadari bahwa Allah menyelamatkan umat-Nya terutama bukan sebagai pribadi-pribadi, tetapi dalam kebersamaan, dalam kelompok umat. Pengalaman dipanggil sebagai kelompok inilah yang menjadi pengalaman umat Israel dalam Perjanjian Lama. Maka kalau Gereja menyebut diri sebagai Umat Allah. Kiranya ide dasarnya tidak bisa dilepaskan dari umat Perjanjian Lama. Disatu pihak, Gereja merasa dirinya sebagai lanjutan dari umat Allah Perjanjian Lama, “disiapkan dalam sejarah bangsa Israel” (LG 2), tetapi dilain pihak juga ada diskontinuitas dengan mereka baik dalam hal iman maupun dalam hal paham mengenai umat Allah sendiri.

1. Paham Umat Allah dalam Kitab Suci
a.  Perjanjian Lama
          Dalam PL, istilah “Umat Allah” jarang dipakai (hanya 2X). Istilah yang tepat adalah “Umat Yahwe” atau “Umat Tuhan (sebanyak 354X). Yang hendak ditekankan oleh PL adalah gagasan mengenai Allah yang menolong, Allah yang mengasihi, yang memperhatikan dan mencintai umat-Nya. “Umat Yahwe” pertama-tama menonjolkan dimensi pilihan Allah, jadi tekanan pada inisiatif Allah untuk mengumpulkan umat tersebut. Kesadaran diri sebagai Umat terpilih ini menjadi pemersatu, juga dibidang sosial politik bagi bangsa-bangsa. Kesadaran diri sebagai bangsa terpilih ini nampak dalam tiga pengalaman pokok: 1) pembebasan dari tanah mesir 2) perjanjian Sinai 3) perebutan tanah terjanji.
          Dalam perkembangannya, gambaran mengenai umat Allah ditandai oleh beberapa unsur:
  1. Perjanjian. Perjanjian dengan Allah dipandang sebagai hadiah cuma-cuma dari Tuhan. Oleh karena itu sudah selayaknya umat menjawab kasih itu dengan menaati segala perjanjian dan hukum Tuhan (Kel 20:22-23:19 dan Ul 12-26).
  2. Kepemimpinan umat Allah PL, yang terdiri dari unsur karismatis (Musa, Yosua para Hakim) dan institusional (Raja-raja)
  3. Hubungan individu-umat. Nampak sikap mereka terhadap bangsa lain. Mereka merasa diri sebagai bangsa terpilih sehingga membuat mereka ekslusif.

b.  Perjanjian Baru
Yesus datang ke dunia untuk mewartakan Kerajaan Allah. Agar pewartaan-Nya dapat diterima oleh banyak orang Yesus mengumpulkan murid-murid disekitarnya. Bagi Yesus, para murid itu dapat memperluas harapan akan Kerajaan Allah bagi seluruh Israel. Namun Israel menolak pewartaan Yesus samapi membunuh-Nya di kayu salib.
          Dengan kebangkitan-Nya Yesus mencurahkan Roh Kudus yang diperoleh dari Bapa dan dijadikan dasar bagi Gereja (Kis 2:33). Melalui peristwa paska para murud berkumpul kembali dan mewartakan kemuliaan Tuhan bagi Umat Allah, Yahdi maupun kafir. Umat Allah tidak lagi terbatas pada para murid ataupun orang Yahudi saja, tetapi umat seluruh dunia. Umat Allah adalah mereka yang mengharapkan keselamatan di dalam Kerajaan Allah.
          Dasar dari Umat Allah yang baru itu adlah ajaran para Rasul, hidup bersama dan pemecahan roti (Kis 2:42). Sedangkan yang mempersatukan antar Umat Allah itu adalah kasih persaudaraan (Kis 2:44-45).

c.   Konsili Vatikan II (LG bab II)
          Dalam Lumen Gentium Umat Allah merupakan judul dari Bab II. Namun demikian yang berbicara langsung mengenai Umat Allah hanya artikel 9. Dengan Umat Allah tidaklah dimaksudkan sebagai “Umat” yang dibedakan dari hirarki, tetapi seluruh umat. Umat Allah lebih mengungkapkan kasih dan kerahiman Allah pada manusia. Dengan faham Umat Allah dinyatakan pula kesininambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Umat Allah lebih menunjuk realitas historis dari Gereja sendiri. Gereja adalah sekelompok orang yang berkembang dalam sejarah. Dengan demikian menonjol sifat historis manusiawi sebagai pelaksanaan misteri keselamatan. Segi communio juga mendapat tekanan disini.
          Pemahaman Gereja sebagai Umat Allah menempatkan Gereja yang dalam rangka rencana keselamatan Allah yang hadir dalam sejarah yang konkret. Sejak semula pelaksanaan keselamatan Allah dalam sejarah diarahkan pada pembentukan komunitas keselamatan. Itulah yang secara bertahap diwujudkan dalam sejarah keselamatan. Sebagai tahap pertama disebut umat Israel (LG 9 al. 1). Memang dalam sejarah Israell, Umat Allah itu terkait dengan bangsa tertentu, sehingga kekurangan segi universalias. Namun demikian dalam Umat Perjanjian Lama itu, karya Allah sudah hadir dalam sejarah manusia. Tetapi apa yang dimulai dalam sejarah Israel itu mengarah pada pembentukan umat Perjanjian Baru dalam Kristus. Umat Baru yang terbntuk dalam Kristus itu tidak lagi terikat pada bangsa tertentu, tetapi bersifat universal. Dalam Umat Baru, semua orang dipanggil untuk berhimpun dihadapan Tuhan untuk membentuk komunitas keselamatan yang bersatu dalam Kristus.

Magisterium


Magisterium


Magisterium adalah kuasa mengajar yang dijalankan oleh pimpinan Gereja untuk melayani seluruh umat Allah. Dalam rangka pewartaan dan pengajaran pimpinan Gereja mempunyai wewenang untuk menafsirkan tradisi dan Kitab Suci  secara otentik. Di sinilah Roh Kudus berkarya, Roh Kudus menyempurnakan iman Gereja yang secara konkret melalui magisterium.

Tugas magisterium secara sistematis:
ü  Mewartak1an sabda Allah
ü  Menjelaskan iman berdasarkan wahyu
ü  Menjaga ajaran iman dari kesesatan

Dasar teologis tugas magisterium:
Yesus sendiri yang memerintahkan para rasul untuk mewartakan injil ke ujung dunia (Mat 28:19-20; Mrk 16:15). Saat ini Dewan para uskup menjadi pangganti Dewan Para Rasul.

Hakekat magisterium (LG 12, DV 10)
ü  Magisterium adalah pelayan sabda Allah oleh karena itu tidak berada di atas sabda Allah tetapi mengabdinya.
ü  Magisterium selalu berada dalam kesatuan dengan tradisi dan Kitab Suci. Kitab Suci sebagai sabda Allah memiliki prioritas absolut baik terhadap pengungkapan-pengungkapan oleh tradisi maupun pengajaran oleh magisterium.
ü  Magisterium merupakan “suara hati” Gereja (berdasar tradisi dan Kitab Suci) menyatakan pendiriannya dengan wewenang. Roh Kudus selalu hadir dalam Alkitab yang telah diinspirasikaan-Nya, dalam tradisi yang dipimpinnya, dalam magisterium yang ditolongnya agar melindungi dan memaparkan dengan setia wahyu yang diteruskan oleh KS dan tradisi.


KV  II membedakan magisterium (LG 25):
ü  Magisterium Ordinarium/biasa yaitu ajaran uskup dalam kolegialitas dengan seluruh uskup dan Paus
ü  Magisterium Extra ordinarium /luar biasa yaitu ajaran resmi Gereja yang dikeluarkan oleh konsili ekumenis atau Paus bila selaku  pimpinan Gereja (ex catedra)

Infalibilitas
RK dicurahkan dalam Gereja, oleh karena itu Gereja secara keseluruhan tidak dapat sesat. Anugerah itu diwujudkan dalam 3 taraf:
Taraf I: Iman Gereja universal.
Sifat infalibilitas ini diwujudkan jika Gereja secara keseluruhan menyatakan kesepakatannya yang universal dalam hal iman dan moral.Gereja secara keseluruhan diajari oleh Roh Kudus yang diterima saat pembaptisan (1 Yoh 2:20-27)

Taraf II: Kesaksian unanim dewan para uskup.
Kepada para pemimpin Gereja, dipercayakan perbendaharaan wahyu. Mereka selalu didampingi Roh Kudus sehingga pengajaran mereka patut dihormati.

Taraf III : Ketua dewan para uskup (primat yang menduduki kursi Petrus = Paus)

Dasar teologis infalibilitas
Yesus menjanjikan Roh Kudus kepada Gereja dalam diri Petrus sehingga ajarannya tidak dapat sesat. Maka Petrus dan persekutuan para rasul punya hak mengajar yang infalibel. Paus dan dewan para uskup merupakan penerus Petrus dan dewan para rasul. Maka Paus dan dewan para uskup pun memiliki infalibilitas dalam mengajar.

Informasi lain tentang infalibilitas
a. Dirumuskan dalam : Konstitusi Pastor Aeternus dalam Konsili Vatikan I (1870).
b. Ruang lingkupnya : Ajaran mengenai iman dan moralitas

Roh Kudus senantiasa menyempurnakan iman


Roh Kudus dalam Kitab Suci

Dalam peristiwa pembaptisan Yesus, RK ditampilkan seperti burung merpati (Mrk 9:9-10) Roh Kuduslah yang memberikan kesaksian bahwa Yesus Anak kesayangan Allah.
1. Roh Kudus dalam injil Yohanes
ü  Yoh 16:4-5 : Roh Kudus disebut sebagai Roh penghibur atau kebenaran yang datang setelah Yesus.
ü  Yoh 14:26         : Roh Kudus disebut sebagai yang diutus Bapa untuk mengajarkan dan mengingatkan segala yang sudah dikatakan oleh Yesus.
2.  Roh Kudus dalam Kisah Para Rasul
Kis 2:1-13         : Roh Kudus ditampilkan secara istimewa dalam kisah pentekosta dimana Roh Kudus dilukiskan seperti lidah api dan dicurahkan atas para rasul. Kisah ini penting sebagai kelahiran Gereja, dimana pewartaan tentang Yesus mulai dijalankan dan Roh Kudus yang memampukan para rasul untuk mewartakan Yesus Kristus.

Karya Roh Kudus dalam Gereja

ü  Peristiwa Pentekosta menjadi dasar kehadiran Roh Kudus dalam Gereja dan pemenuhan janji Allah.
ü  Karya Roh Kudus adalah pekerjaan kasih: menghidupkan, menggerakkan, membebaskan, menyelamatkan, memelihara, membaharui.
ü  Sehingga kehadiran Roh Kudus dalam Gereja menjadikan Gereja:
o   Gereja sebagai persekutuan ilahi dan bukan melulu insani
o   Memberi jiwa pada Gereja
o   Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus
o   Mempersatukan jemaat dengan Kristus sebagai Kepala.

Karya Roh Kudus dalam menyempurnakan iman

1.Berkaitan dengan iman pribadi
ü  Menggerakkan dan mengarahkan hati kepada Allah. Manusia sadar bahwa ia digerakkan oleh rahmat Allah. Roh Kudus mendorong manusia untuk selalu terbuka terhadap segala bentuk pewahyuan Allah.
ü  Membuka mata budi. Manusia tak mampu melihat Allah dengan mata budinya. Mata budi manusia hanya mampu melihat bntuk-bentuk pewahyuan dalam tanda-tanda nyata. Tetapi Roh Kuduslah yang membuka mata budi manusia sehingga dalam tanda-tanda nyata yang dilihat, Allah hadir dan berbicara kepada manusia. Dalam penyerahan diri kepada Roh, manusia sungguh-sungguh mengenal Allah. Rahasia Kristus dinyatakan dalam Roh (Ef 3:4-5). Roh Kudus diam dalam diri orang beriman (Rm 8:9-11; 1 Kor 3:16). Hidup iman tak lain adalah buah Roh (Gal 5:22).
ü  Memberi kesadaran untuk menyetujui dan mempercayai kebenaran. Karena Rahmat Roh Kudus manusia terdorong untuk mengungkapkan pengakuan imannya. Dalam pengakuan iman tersebut manusia terdorong untuk melaksanakannya dalam hidup yang sesuai dengan tujuan dan kehendak Allah. Roh Kudus adalah Roh Kebenaran (Yoh 14:17; 15:26)

2. Berkaitan dengan iman Gereja
Perkembangan iman tidak hanya terjadi secara perorangan, tetapi juga dalam Gereja sebagai paguyuban. Berkaitan dengan iman gereja Roh Kudus berkarya melalui:
ü  Tradisi (DV 8): mulai para rasul dan gereja perdana, masa bapa-bapa Gereja, konsili-konsili yang semuanya itu menggambarkan perkembangan iman gereja berkat karya Roh Kudus sampai sekarang.
ü  Kitab Suci (DV 10): Kitab Suci bukan sebagai sabda Allah secara harafiah, oleh karena itu perlu ditafsirkan sesuai dengan keadaan zamannya. Dengan demikian pengenalan wahyu dalam Kitab Suci pun terus berkembang menuju kesempurnaan eskatologis berkat karya Roh Kudus.
Maka melalui karya-karya Roh Kudus pewahyuan Allah secara berangsur-angsur menjadi semakin jelas, dengan demikian Roh Kudus secara otomatis terus menerus menyempurnakan iman manusia.