Theology,Technology, and Philosophy, ENJOY!!

Materi Pendidikan Agama Kaloik SD

Kunjungi Chanel DMC Yos Sudarso

Materi Pendidikan Agama Katolik SMA/SMK

Kunjungi Chanel DMC Yos Sudarso di Youtube

Materi Pendidikan Agama Katolik untuk SMP

kunjungi Chanel DMC Yos Sudarso

Showing posts with label filsafat sosial. Show all posts
Showing posts with label filsafat sosial. Show all posts

Tuesday, February 12, 2013

MANIFESTO KOMUNIS - Mengapa berjuang untuk revolusi yang tak terelakan?


MANIFESTO KOMUNIS
Masalah : mengapa berjuang untuk revolusi yang tak terelakan?

Teori Marx mengalami kesulitan serius dan kegelisahan yang tidak pernah bisa diatasi. Apakah masuk akal bagi Marx, mendorong kaum proletar untuk beraksi agar menghasilkan revoluysi yang penting dan tidak bisa dihindari, menurut hukum-hukum dialektika sejarah? Mengapa harus kaum komunias yang mendorong kaum proletar untuk beraksi agar menciptakan revoluis yang akan datang? Apakah pendekatannya tidak bisa ditawar-tawar lagi sehingga tidak ada kekuatan di muka bumi yang bisa menghentikanya? Untuk apa berjuang demi hal yang tidak bisa dihindarikan lagi?

Marx membangun pembedaan antara komunisme filosofis dan komunisme `nyata' pada sebuah sketsa umum perkembangan historis yang menempatkan komunisme sebagai sebuah `partai revousioner tertentu', bukan dalam dunia ide melainkan sebagai hasil yang niscaya dalam sebuah kondisi sosial tertentu. Dari skema inilah muncul kemudian konsep-konsep dasar tentang materialisme historis. Marx menyajikan penafsirannya tentang sejarah dengan sangat berbeda dari apa yang disajikan oleh filsafat Jerman dalam hal sejarah bergerak maju `dari bumi menuju surga' bukannya sebaliknya. Adalah dalam proses di mana manusia memproduksi alat material untuk penghidupannya, bagaimana mereka `bekerja di bawah pembatasan-pembatasan syarat-syarat dan kondisi-kondisi material tertentu yang tidak tergantung dari kehendak bebas mereka', itulah yang menentukan `pembentukan ide-ide, pandangan dan kesadaran'. `Moralitas, agama, metafisika, dan semua ideologi yang lain … dengan demikian tak lagi dapat mempertahankan tampilan kemandiriannya. Ide-ide tersebut tak punya sejarah, tidak memiliki perkembangan; tetapi manusia, yang mengembangkan produksi materialnya dan interaksi materialnya, mengubah, seiring dengan keberadaan nyata dirinya, pemikiran dan hasil-hasil pemikirannya'.[1]
Dalam penafsiran sejarah seperti itu, konsepsi Marx tentang komunisme `nyata' menjadi dapat dipahami. Ide-ide komunis bukanlah hasil logis dari sejarah filsafat, karena filsafat tidak memiliki sejarahnya sendiri. Kesadaran komunis muncul karena hubungan produksi borjuis yang tidak lagi mampu menampung perkembangan kekuatan-kekuatan produktif.[2]
Dalam perkembangan kekuatan-kekuatan produktif, muncullah suatu tahap di mana kekuatan-kekuatan produktif dan alat interaksi yang dihasilkan, di bawah hubungan-hubungan yang ada, hanya menyebabkan kerusakan, dan tidak lagi produktif tapi destruktif (mesin dan uang); dan sehubungan dengan ini muncullah sebuah kelas, yang harus menanggung semua beban masyarakat tanpa menikmati keuntungannya, yang, karena diasingkan dari masyarakat, terpaksa mengambil sikap penentangan yang paling kuat terhadap kelas-kelas yang lain, sebuah kelas yang membentuk mayoritas dari seluruh anggota masyarakat, dan dari mana muncul kesadaran akan perlunya sebuah revolusi yang mendasar.
Singkatnya, syarat-syarat material bagi komunisme adalah hal yang membangkitkan kesadaran komunis, yang akan mengakibatkan satu tranformasi sosial. `Bagi kami komunisme bukanlah suatu state of affairs [keadaan yang menentukan berlangsungnya peristiwa-peristiwa, pen.] yang harus dibangun, suatu hal yang ideal, di mana kemudian realitas harus menyesuaikan diri terhadapnya. Kami menyebut komunisme sebagai gerakan yang nyata, yang akan menghapuskan berbagai keadaan yang sekarang ada'.[3]
Dengan the German Ideology, Marx dengan pasti menolak konsep-konsep humanisme Feuerbachian yang mengasumsikan sifat manusia yang ideal, yang harus mengarahkan segala usaha untuk menempa ulang seluruh lembaga sosial. Sebaliknya, Marx menekankan pentingnya penyelidikan ilmiah yang objektif tentang dunia nyata, yang digabungkan dengan praktek politik untuk mengubahnya. Menyusul penemuan teori materialisme historis, Engels kemudian menulis,
Komunisme di antara orang-orang Perancis dan Jerman, Chartisme di antara orang-orang Inggris, kini tidak tampak sebagai suatu yang kebetulan saja, yang dapat saja tidak terjadi sama sekali. Gerakan-gerakan ini kini menampakkan dirinya sebagai gerakan dari kelas tertindas modern, yaitu proletariat, sebagai bentuk yang lebih atau kurang berkembang dari perjuangan yang secara historis memang diperlukan untuk melawan kelas berkuasa, yaitu borjuasi. Dan komunisme kini bukan lagi sebuah campuran, melalui khayalan, tentang sebuah masyarakat yang ideal sesempurna mungkin, melainkan sebuah pandangan terhadap watak, syarat-syaratnya, dan tujuan umum perjuangan dilancarkan oleh kaum proletariat `.[4]
Meskipun Marx dan Engels kini menyadari bahwa gerakan buruh sejatilah yang telah menarik keduanya pada komunisme, namun ideologi gerakan ini, bahkan ketika sudah menyebut diri sebagai komunis dan memandang perlu penghapusan kepemilikan pribadi, belum menunjukkan satu pandangan yang memadai terhadap masyarakat di mana mereka dimunculkan, dan tentang berbagai kemungkinan dan alat untuk mencapai tranformasi sosial itu. Terlebih lagi, Inggris ketika itu masih merupakan satu-satunya negeri di mana kapitalisme industri mutlak merupakan bentuk produksi material yang dominan, di mana pertanian hanya melibatkan separuh dari populasi pekerja, dan di mana bentuk-bentuk produksi perkotaan awal seperti kerajinan tangan dan manufaktur hampir semuanya telah dihisap kering oleh industri mesin. Pada 1830-an, di Inggris berkembang gerakan historis berwatak massa yang pertama, yang berbasiskan proletariat industri: Chartisme. Melihat fakta ini, Marx dan Engels pun memberikan dukungan yang konsisten terhadap orang-orang Chartis dan bermaksud untuk bekerja sama dengan sayap kiri Chartis, yang dipimpin oleh Ernest Jones dan Julian Harney.

REVOLUSI 1848

Marx menulis Manifesto dengan tergesa-gesa sebelum berangkat menuju Liga Komunis di London, yang kemudian mempublikasikannya sebagai sebuah risalah propaganda yang tampak seperti pergerakan hebat menuju revolusi yang sudah dekat. Manifesto dengan sangat jelas mengkristalisasi pemikiran Marx bahwa seperempat abad kemudian Marx dan Engels menulis: ”prinsip-prinsip umum yang diuraikan secara terperinci dalam dokumen secara keseluuruhan adalah benar, hari ini sampai kapan pun.” Meskipun ketika diterbitkan Manifesto susah dikenal oleh siapa pun, namun Marx dan Engels benar-benar telah merasakan datangnya revolusi. Sebelum manifesto diterbitkan pada Februari 1848, revolusi 1848 telah dimulai. Dalam beberapa minggu raja Prancis telah digulingkan dan revolusi 1848 mulai meledak di suatu negara dan menyusul di negara lainnya: Swis, Italia, Prancis Jerman, Hongaria.
Namun semua ledakan revolusi yang penuh pengharapan ini, dimana kelas menengah dan kelas pekerja bersatu, dikalahkan dan dihancurkan sebelum akhir 1848. Dalam sebuah publikasi Manifesto, pada 3 Maret 1848, Marx diberi surat peringatan yang ditandatangani Raja Belgia, untuk meninggalkan negara teersebut dalam jangka waktu 24 jam. Kemudian diteruskan dengan revolusionernya yang penuh dengan keputusasaan dan terbuang seperti yang telah kita saksikan, berakhir dengan pelarian Marx ke London pada 1849. Revolusi 1848 telah menjadi sebuah bencana, namun kekecewaan Marx membuat pendirian lebih kokoh bahwa persekutuan kaum proletar dengan elemen kaum borjuis tidak pernah akan berhasil; bahwa hanya sebuah revolusi penghancuran kaum borjuis oleh kaum proletar, yang dipimpin dan diorganisir oleh partai komunis ketika sejarah telah dianggap matang, yang akan berhasil dan bisa dipertahankan kemenangannya hanya dengan kediktatoran yang ”segera akan menghapuskan semua institusi”.[5]

Filosof, Proletariat dan Revolusi
Bagaimana melaksanakan emansipasi ini? Agama dapat saja dibongkar lewat krtik teoretis, tetapi kritik teoretis tidak dapat membongkar keterasingan yang berakar dalam struktur2 masyarakat itu sendiri. Bukan kritik teoretis agama, melainkan kritik praktis terhadap struktur-struktur masyarakat yang membuat manusia tersing, itulah yang perlu. Dari pertimbangan itu, Marx menarik  kesimpulan bahwa pembebasan manusia dari keterasingannya hanya dapat dilaksanakan lewat sebuah revolusi, revoluis yang sesungguhnya.
Apa syarat-syarat revolusi yang membebaskan manusia? Marx menegaskan bahw tidak mungkin revolusi itu disulut oleh filsafat semata. Revolusi membutuhkan unsur pasif, dasar material. Teori hanya dapat dilaksanakan  dalam rakyat sejauh teori itu merupakan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rakyat. Tidak cukup bahwa pikiran mendesak ke pelaksanaan, realitas harus mendesak ke arah pikiran. Dengan kata lain: rakyatlah yang harus merasakan kebutuhan akan emansipasi, baru kemudian dia terbukan bagi kritik teoretik sang filosof.
Tetapi apakah rakyat akan merindukan revolusi? Jawabannya mudah. Kalau rakyat betul-betul ditindas, dia tentu ingin ber-revolusi, kondisinya memang belum matang.
Tetapi jawaban itu cukup bagi Marx. Marx tidak bicara tentang sembarang revolusi. Misalnya revolusi Prancis: revolusi itu memang membebaskan seluruh rakyat Prancis dari penghisapan kaum feodal, akan tetapi revolusi itu bagi Marx belum radikal. Revolusi Prancis hanya melahirkan struktur-struktur kekuasaan baru dimana borjuasi menjadi kelas berkuasa yang baru. Revolusi yang membebaskan amnusia secara radikal harus melahirkan masyarakat tanpa kelas yang berkuasa. Yang dipertanyakan Marx adalah syarat kemungkinan revolusi yang  manusiawi artinya radikal, tidak hanya politis.
Jawaban yang diberikan Marx tidak sederhana tetaapi fundamental kalau kita mau mengerti pikirannnya selanjutnya. Marx bertolak dari pengandaian bahwa revolusi akan menghancurkan kekuasaan yang dirasakan paling menindas. Tetapi apakah ada kelas yang tidak hanya ditindas oleh salah satu kelas saja, lalu melakukan revolusi melawan kelas itu, barangkali dengan koalisi melawan kelas lain yang merasakan penindasan yang sama, lalu menjadikan dirinya sendiri kelas berkuasa yang baru? Kelas yang dicari Marx mesti tertindas tidak hanay untuk sebagian tetapi total; dia mesti berlawanan tidak hanya dengan beberapa bagian masyarakat, tetapi dengan masyarakat seluruhnya. Dia tidak hanya mengalami macam-macam penghinaan, melainkan mesti kehilangan kemanusiaannya. Hanya kelas seperti itu yang dapat melakukan revolusi radikal yang mengemansipasikan manusia seluruhnya dan seluruh manusia, tanpa menciptakan struktur kekuasaan kelas atas yang baru atas kelas-kelas yang lain. marx merumuskan gagasan itu dalam sebuah kalimat panjang yang sangat terkenal: jadi di mana kemungkinan positif emansipasi Jerman? Jawabannya: dalam pembentukan sebuah kelas denga rantai-rantai radikal, sebuah kelas masyarakat borjuis yang bukan kelas masyarakat borjuis, sebuah glongan yang merupakan pembubaran semua golongan, sebuah lingkungan yang memiliki ciri universal, yang tidak mengklaim sebuah hak tertentu karena perlakuan yang diterimanya bukan ketidakadilan tertentu melainkan sang ketidakadilan, yang tidk hanya mengacu pada hak hostoris, melainkan hanya pada hak sebagai manusia, yang tidak berada dalam pertentangan sepihak dengan konsekuensi-konsekuensi, melainkan dalam pertentangan menyeluruh dengan penandaian-pengandaian kenegaraan  Jerman, akhirnya sebuah lingkungan yang tidak dapat mengemansipasikan semua lingkungan masyarakat dan dengan demikian mengemansipasikan semua lingkungan masyarakat; yang merupakan keadaan di mana manusia seluruhnya hilang, jadi hanya dapat menemukan dirinya dengan menemukan manusia seluruhnya. Pembubaran masyarakat sebagai golongan tersendiri itu adalah proletariat.
Untuk pertama kalinya proletariat muncul di sini sebagai penyelamat manusia. Proletariat akan membebaskan manusia melaui revoluisnya berdasarkan argumentasi yang murni filosofis dan jauh mendahului analisis sosial ekonomis. Proletariat dipahami sebagai kelas total karena tertindas total, dan oleh karena itu, apabila ia ber-revolusi akan ber-revoluisi secara total; artinya akan membebaskan masyarakat dari kelas-kelas, akan membebaskan manusia sebagai manusia.[6]


[1] www.pengkolan.net/ngelmu/sospol/indeks.php?nomor 37&sub_cat=evolusi 1848 dan perkembangan pemikiran#32, Lawrence & Wishart, edition, 1965, h. 37-38
[2] www.pengkolan.net/ngelmu/sospol/indeks.php?nomor 37&sub_cat=evolusi 1848 dan perkembangan pemikiran#32, Lawrence & Wishart, edition, 1965, h. 37-38
[3] www.pengkolan.net/ngelmu/sospol/indeks.php?nomor 37&sub_cat=evolusi 1848 dan perkembangan pemikiran#32, Lawrence & Wishart, edition, 1965, h. 47
[4] `On the History of the Communist League', MESW, h.437


[5] T. Z. Lavine, Marx: Konflik Kelas dan Orang yang Terasing, Penerbit Jendela, Yogyakarta, 2003,88-89
[6] Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx, dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1999, 81-84

TEORI TENTANG NILAI LEBIH


AJARAN/TEORI TENTANG NILAI LEBIH[1]



A. TEORI NILAI PEKERJAAN

Teori ini hendak menjawab pertanyaan: bagaimana nilai ekonomis sebuah komoditi (komoditi barang sejauh diniagakan) dapat ditentukan secara obyektif?
Sebelum melihat jawaban Marx, kita perlu memahami sebuah distingsi yang amat penting yaitu distingsi antara nilai pakai dan nilai tukar.
Nilai pakai adalah nilai barang diukur dari kegunaannya untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Misalnya: sepatu yang terlalu kecil bagi saya mempunyai nilai pakai nol karena tidak dapat saya pakai, tetapi bagi orang dengan kaki lebih kecil dapat mempunyai nilai pakai lebih lumayan. Jadi nilai pakai adalah manfaat barang untuk memenuhi sebuah kebutuhan dalam masyarakat. Nilai pakai tergantung dari jenis barang (kalau saya memerlukan celana, jangan ditawari dasi,meskipun harganya sama) dan dari kebutuhan dalam masyarakat (nilai pakai pemanas ruang listrik di Jakarta adalah hampir nol, padahal cukup mahal).
Nilai tukar adalah nilai barang kalau dijualbelikan di pasar. Jadi dalam bahasa sederhana, nilainya dalam bentuk uang. Dasi dan celana dapat saja mempunyai nilai tukar yang sama (Mis, RP. 25000) meskipun nilai pakai berbedaa. Pembeli akhir komoditi membelinya demi nilai pakainya, artinya karena ia membutuhkan barang itu.  Tetapi smeua pemberli yang bukan merupakan pembeli akhir membelinya demi nilai tukar, artinya dengan maksud untuk menjualnya kembali dengan tujuan memperoleh laba.
Nilai pakai barang ditentukan oleh kebutuhan masyarakat. Tetapi bagaimana nilai tukar sebuah komoditi ditentukan? Mengapa sebuah dasi sama harganya dengan sebuah celana dan mengapa dengan dua buah? Mengapa sebuah sepeda motor vespa sama haranya (= sama nilai tukarnya) dengan sebuah komputer notebook dan bukan dengan dua notebook?
Marx menjawab: karena waktu untuk memproduksi dua barang yang nilai tukarnya adalah sama. Yang menetukan nilai tukar sebuah barang adalah waktu kerja yang dibutuhkan untuk menciptakannya. Barang yang pembuatannya membutuhkan 2 jam bernilai 2 kali lebih tinggi daripada barang yang bisa dikerjakan dalam 1 jam (dengan harga sebuah jas saya bisa membeli 2 buah celana karena pada waktu seorang penjahit membuat sebuah jas, ia dapat membuat 2 buah celana).
Tetapi bukan waktu kerja individual konkret yang dibutuhkanuntuk produksi barang tertentu (misalnya oleh tukang jahit di jalan Malioboro untuk membuat celana) yang menetukan nilai hasil kerjanya, melainkan apa yang oleh Marx disebut waktu kerja sosial yang perlu, artinya  waktu rata-rata yang diperlukan dalam sebuah masyarakat dengan kepandaian kerja tertentu untuk membuat barang itu. Jadi, nilai tukar komoditi tidak ditentukan oleh jumlah pekerjaan (atau jumlah waktu pekerjaan) yang de facto telah dibutuhkan untuk membuat barang itu, melainkan oleh waktu kerja rata-rata yang diperlukan untuk memproduksikannya berdasarkan tingkat teknologis masyarakat itu. Secara sederhana, nilai tukar sebuah barang ditentukan oleh jumlah waktu yang rata-rata diperlukan untuk memproduksikannya. Yang dimaksudakan dengan teori nilai pekerjaan adalah nilai tukar segenap barang ditentukan oleh jumlah pekerjaan yang masuk ke dalam produksinya.
Sebuah catatan: nilai tukar hampir sama dengan harga komoditi, tetapi tidak seluruhnya sama. Bedanya ialah bahwa harga komoditi tidak hanya ditentukan oleh waktu kerja yang diperlukan untuk memproduksikannya, melainkan juga apakah komoditi itu laku di pasar atau tidak. Jadi oleh hukum penawaran dan permintaan. Kalau permintaan ramai, harga komoditi naik di atas nila tukarnya; kalau p[ermintaan sepi, harganya turun di bawahnya.  Tetapi yang menentukan adalah tetap nilai tukar komoditi, karena nilai tukar itu adalah poros di mana di sekitarnya harga kadang-kadang naik dan kadang-kadang turun. Apabila pasar seimbang, harga komoditi adalah hampir identik dengan nilai tukarnya.

B. TEORI TENTANG NILAI TENAGA KERJA

Menurut Marx, dalam sistem ekonomi kapitalis, tinggi upah buruh yang tepat ditentukan oleh cara yang sama. Upah adalah imbalan atau pembayaran bagi tenaga kerja buruh. Tenaga kerja buruh diperlakukan persis sebagai komoditi. Seperti seseorang menjual hasil kerajinan tangannya di pasar, si burh menjual tenaga kerjanya kepada yang mau membelinya. Majikan adalah orang yang memerlukan komoditi tenaga kerja. Maka ia pergi ke pasar dan membelinya dengan harga yang sesuai dengan nilai tukarnya. Bagaimana nilai (tukar) tenaga kerja buruh ditentukan secara obyektif?
Nilai tenaga kerja (sama seperti nilai komoditi) ditentukan oleh jumlah pekerjaan yang perlu untuk menciptakannya. Maka nilai tenaga kerja adalah nilai yang komoditi yang perlu dibeli oleh buruh agar ia dapat hidup, artinya agar ia dapat memulihkan tenaga kerjanya serta memperbaharuinya dan menggantinya kalau ia sudah tidak dapat bweekerja lagi. Dengan lain kata, nilai tenaga kerja buruh adalah jumlah nilai makanan, pakaian, tempat tinggal dan semua kebutuhan lain si buruh dan keluarganya (sesuai dengan tingkat sosial an kultural masyarakat yang bersangkutan. Kesimpulan teori nilai tenaga kerja itu adalah bahwa upah yang wajar), wajar dalam arti buruh mendapat upah yang senilai (equivalent) dengan apa yang diberikannya. Jadi, sesuai dengan hukum yang secara resmi/umum berlaku di pasar adalah yang mencukupi kebutuhan  buruh untuk dapat memulihkan tenaga kerja serta membesarkan anak-anak yang akan menggantikannya apabila tenaga kerjanya sendiri sudah habis.
Menurut Marx, upah yang diterima buruh adalah adil dalam arti bahwa transaksi antara majikan dan buruh berupa pertukaran ekuivalen: penyerahan tenaga kerja oleh buruh diberi imbala sesuai dengan hukum pasar. Jadi Marx tidak mengandaikan adanya suatu penghisapan buruh yang luar biasa. Ia mengatakan bahwa dalam situasi dan kondisi biasa, upah buruh pun biasa, sesuai dengan harganya.

C. TEORI NILAI LEBIH
Ada pengandaian bahwa seorang buruh membutuhkan rata-rata 10 ribu rupiah perhari supaya ia dengan keluarganya dapat hidup, artinya memulihkan tenaga kerja serta membesarkan anak-anaknya supaya klemudian hari mereka dapat menggantikannya (misalnya termasuk biaya sekolah, dll). Jadi nilai tenaga kerjanya adalah Rp. 10.000 per hari. Marx mengandaikan bahwa dalam keadaan ekonomi normal, majikan yang membeli tenaga kerja buruh itu akan membayar upah yang sesuai, sekitar Rp. 10.000 (kalau jumlah buruh yang menawarkan diri berlimpah, harga tenaga kerja dibedakan dari nilainya akan turun. Jadi upah akan kurang dari Rp. 10.000. sebaliknya, kalau ada kekurangan buruh, upah akan naik diatas Rp. 10.000, tetapi pada hakikatnya upah buruh akan berkisar Rp. 10.000.
Sesudah majikan membeli tenaga kerja buruh itu, apa yang akan dilakukannya? Ia memakainya. Artinya, ia menyuruh buruh bekerjaa. Berapa lama? Karena ia membeli seluruh tenaga kerja buruh (dan membayar sesuai dengan nilainya), ia memilikinya seluruhnya. Jadi ia akan memakai tenaga kerja itu sepenuhnya. Secara teoretis, ia dapat memakainya selama 24 jam per hari. Tetapi karena  manusia tidak dapat bekerja terus menerus, melainkan memerlukan waktu istirahat, waktu kerjanya dengan sendirinya kurang dari 24 jam per hari. Majikan yang bijaksana tidak akan memperjakan buruh sedemikian ketat sehingga mutu tenaga kerja (yang dibelinya) menurun. Misalnya: ia mempekerjakannya selama 8 jam setiap hari (yang berarti bahwa buruh sesudah bekerja capai tidak dapat bekerja lagi; itulah artinya seluruh tenaga kerja dihabiskan). Jadi, buruh bekerja 6 hari seminggu (satu hari dibebaskan untuk pemulihan tenaga kerja lebih menyeluruh) selama 8 jam per hari dengan upah Rp. 10.000 per hari.
Andaikan bahwa yang berhasil diproduksi dalam pekerjaan 8 jam itu bernilai Rp. 20000. Jadi dengan tenaga kerja buruh itu, majikan memperoleh nilai total Rp. 20.000. padahal upah yang diterima hanyalah Rp. 10.000. untuk menciptakan nilai yang seimbang dengan upahnya sebenarnya buruh hanya perlu bekerja selama 4 jam. Tetapi karena ia sudah menjual seluruh tenaga kerja kepada majikan,ia harus menghabiskannya seluruhnya. Artinya, ia harus bekerja 8 jam (atau lebih andaikata itu mungkin). Pekerjaan 4 jam melebihi apa yang perlu untuk menggantikan tenaga kerja buruh itu adalah nilai lebih. Jadi nilai lebih adalah diferensi antara nilai yang diproduksikan selama 1 hari oleh seorang pekerja dan biaya pemulihan tenaga kerjanya.

D. TEORI TENTANG LABA
Menurut Marx, nilai lebih itulah satu-satunya sumber laba sang kapitalis. Andaikata buruuh sudah boleh berhenti 4 jam sesudah bekerja, pekerjaannya tidak akan menghasilkan untung sama sekali bagi pemilik karena yang masuk lewat pekerjaan  buruh langsung keluar sebagai upah. Laba perusahan seluruhnya tergantung dari besar kecilnya nilai lebih. Karena itu, sistem kapitalis adalah sistem yang menghasilkan keuntungan karena nilai lebih yang diciptakan oleh buruh dengan pekerjaannya yang tidak dibayarkan kepadanya. Ada beberapa segi yang perlu diperhatikan di sini.
Barangkali orang akan membantah: bukankah buruh industri bekerja dengan mesin yang melipatgandakan hasil kerjanya? Marx akan menjawab bahwa itu memang betul, tetapi mesin itu sendiri harus dibeli dan dipelihara. Apabila biaya pembelian dan pemeliharaan mesin dikurangi dari harga jual produk akhir perusahan, akan kelihatan bahwa satu-satunya keuntungan pemilik adalah nilai lebih tersebut. Biaya pembelian dan pemeliharaan mesin-mesi  sendiri ditentukan oleh tenaga kerja tangan yang masuk ke dalamnya. Akhirnya seluruh harga sebuah produk dapat dikembalikan kepada pekerjaan tangan buruh, dan laba perusahaan adalah nilai lebih, jadi hasil waktu kerja yang melebihi waktu yang diperlukan untuk memulihkan tenaga kerja yang dipakai.
Teori tentang nilai lebih menyingkapkan apa yang oleh Marx disebut rahasia perekonomian kapitalis. Rahasia itu berhubungan erat dengan hakikat logika sistem kapitalisme kalau dibandingkan dengan perekonomian pasar prakapitalis.


[1] Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx, dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1999, 181-188